Sabtu, 19 Maret 2011

Makalah Perbedaan Antara Sastra Pop dengan Sastra Picisan

Bab I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Sastra merupakan sebuah karya yang di tuangkan dalam bentuk tulisan. Sastra dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu sastra pop, sastra picisan, dan sastra pendidikan. Pada umumnya dari kebanyakan kalangan hanya mengenal sastra picisan yang isinya mengenai roman-roman percintaan. Namun, ada baiknya bila kita semua mengetahui dan memahami ketiga jenis sastra tersebut. Dari data yang pernah diperoleh, hampir sebagian besar sastra yang laku dipasaran hanyalah sastra picisan saja. Hal ini di karenakan kandungan isi dari sastra picisan berisi tentang cerita-cerita yang dapat meningkatkan gairah dalam membaca. Sementara kebanyakan dari sastra lainnya hanya dapatt mempengaruhi pembaca tidak secara optimal. Hal ini cenderung mengarah ke sifat bosan. Oleh karena itu, diharapkan kepada para penulis agar membuat tulisanyang diharapka dapat meningkatkan imajinasi para pembaca serta menjauhkan tulisan tersebut dari kata-kata bakuyang dapat membuat pembacamenjadi bosan. Hal ini dapat disiasati dengan menambahkan bahasa sehari-hari dalam tulisan serta mencantumkan sebuah gambaran dari konsep-konsep dasar dari materi yang ditulis. Berdasarkan uraian diatas, dapat kita ketahui bahwa sastra picisan jauh lebih disenangi oleh khalayak banyak. Untuk itu dalam makalah ini akan dibahas perbedaan dan persamaan antara sastra pop, sastra picisan dan sastra pendidikan.

1.2  Rumusan Masalah
a.       Apakah pengertian sastra pop, sastra picisan dan sastra pendidikan
b.      Apakah perbedaan antara sastra pop, sastra picisan dan sastra pendidikan
c.       Apakah persamaan antara sastra pop, sastra picisan dan sastra pendidikan


1.3  Tujuan
a.       Mengetahui pengertian dari sastra pop, sastra picisan dan sastra pendidikan
b.      Memahami perbedaan antara sastra pop, sastra picisan dan sastra pendidikan
c.       Lebih mengetahui dan memahami penjabaran dan kandungan isi yang tersirat dalam sastra pop, sastra picisan, dan sastra pendidikan
d.      Menegtahui persamaan antara sastra pop, sastra picisan, dan sastra pendidikan



1.4  Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari pembahasan masalah dalam makalah ini adalah berupa novel pop, novel picisan dan novel pendidikan.

1.5  Manfaat
a.       Sebagai bahan bantuan dalam mengetahui dan memahami pengertian dari sastra pop, sastra picisan, dan sastra pendidikan
b.      Sebagai pembanding karya tulis lain
c.       Sebagai bahan bantuan dalam mengetahui dan memahami persamaan serta perbedaan antara sastra pop, sastra picisan, dan sastra pendidikan
d.      Sebagai bahan referensi untuk bahan pembelajaran bagi siswa SMA Negeri 5 Medan


1.6  Metodologi
Penyajian pembahasan ini memakai metode sebagai berikut :
a.       Melakukan kajian pustaka beberapa buku literatur yang membahas tentang sastra pop, sastra picisan, dan sastra pendidikan
b.      Melakukan pencarian melalui internet dari berbagai situs






Bab II
PEMBAHASAN

2.1 Hakikat Sastra
“Tentu saja, sastra itu sebuah kata, bukan sebuah benda” (Robert Scholes dalam Luxemburg dkk, 1992: 1). Mengutip pandangan Robert Scholes di atas, dapat dikatakan bahwa sastra merupakan ruang yang mengedepankan kata-kata (semacam lahan berekspresi) dibandingkan pada kebendaan yang mungkin setiap saat bisa lapuk dan binasa. Kata-kata diyakini akan lebih awet sebab ia berputar pada imajinasi antara hati dan otak manusia. Sehingga jarang untuk binasa.
Sapardi (1979: 1) memaparkan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium: bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat, antara masyarakat dengan orang-seorang, antar manusia, dan antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Bagaimanapun juga, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang, yang sering menjadi bahan sastra, adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat.
Lebih khusus, Burhan Nurgiyantoro (1995) menyebutkan pada dunia kesastraan dikenal adanya prosa sebagai salah satu genre sastra di samping genre-genre yang lain. Prosa dalam pengertian kesastraan disebut juga dengan fiksi, teks naratif, atau wacana naratif (dalam pendekatan struktural dan semiotik). Istilah fiksi adalah cerita rekaan atau cerita khayalan. Menurut Altenbernd dan Lewis (dalam Nurgiyantoro, 1995: 2) dapat diartikan sebagai “prosa naratif yang bersifat imajiner, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia. Pengarang mengemukakan hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan. Namun, hal itu dilakukan secara selektif dan dibentuk sesuai dengan tujuannya yang sekaligus memasukkan unsur hiburan dan penerangan terhadap pengalaman kehidupan manusia.”
Sampai sekarang, belum ada semacam kesepakatan secara universal tentang pengertian sastra. Taum (1997) mengungkapkan bahwa pendefinisian sastra tak mungkin dirumuskan secara luas namun tergantung pada lingkungan kebudayaan tertentu dimana sastra itu dijalankan. Sastra hanya sebuah istilah yang dipergunakan untuk menyebut sejumlah karya dengan alasan tertentu dalam lingkup kebudayaan tertentu pula.
Dalam “Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Moderen” yang disusun oleh Muhammad Ali hakikat adalah kebenaran atau kenyataan yang sebenarnya. Dari berbagai pendapat yang dipaparkan sebelumnya maka dapat ditarik sebuah garis tentang hakikat sastra yaitu pengungkapan realitas kehidupan masyarakat secara imajiner atau secara fiksi. Dalam hal ini, sastra memang representasi dari cerminan masyarakat. Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Georg Lukacs (Taum, 1997: 50) bahwa sastra merupakan sebuah cermin yang memberikan kepada kita sebuah refleksi realitas yang lebih besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih dinamik.

2.2 Jenis Sastra
Berdasarkan bentuknya sastra terbagi atas empat bagian :
a.       Prosa, yaitu bentuk sastra yang dilukiskan dalam bahasa yang bebas dan panjang dengan penyampaian secara narative (bercerita). Contohnya novel dan cerpen.
b.      Puisi, yaitu bentuk sastra yang dilukiskan dalam bahasa singkat, padat, serta indah. Dalam puisi lama bentuknya selalu terikat oleh aturan-aturan baku.
Aturan baku antara lain :
·         Jumlah larik tiap bait
·         Jumlah suku kata atau kata dalam tiap-tiap larik
·         Pola irama pada setiap larik atau bait
·         Persamaan bunyi kataa atau rima
c.       Prosa Liris, yaitu sastra berbentuk puisi namun isinya berupa cerita. Prosa liris dapat juga diartikan sebagai prosa yang dipuisikan.
d.      Drama, yaitu bentuk sastra yang dilukiskan dalam bahasa bebas dan panjang serta dilukiskan dengan menggunakan dioalog.

Berdasarkan sejarahnya sastra dapat dibagi menjadi dua bagian :
a.       Sastra Klasik, yaitu sastra yang hidup dan berkembang pada masyarakat lama Indonesia
b.      Sastra Baru, yaitu sastra yang hidup dan berkembang pada masyarakat baru Indonesia

Perbedaan sastra klasik dan sastra baru
Sastra Klasik
Sastra baru
a.       Puisi berbentuk terikat dan kaku.
b.      Prosa lama statis (sesuai dengan keadaan masyarakat lama yang mengalami perubahan yang sangat lambat).
c.       Kratonsentris (cerita yang berkisah kerajaan, istana, keluarga raja; bersifat feodal).
d.      Prosa hampir seluruhnya berbentuk hikayat, tambo, atau dongeng. Pembaca dibawa ke alam khayal dan fantasi.
e.       Kemudian dipengaruhi oleh kesusastraan Hindu dan Arab.
f.       Cerita sering bersifat anonim.
a.       Puisi bersifat bebas, baik bentuk maupun isinya.
b.      Prosa baru dinamis (senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat).
c.       Masyarakat sentris (cerita mengambil bahan dari kehidupan masyarakat sehari-hari).
d.      Bentuknya roman, novel, cerpen, kisah, drama. Berlandaskan pada dunia nyata; berdasarkan kenyataan dan kebenaran.
e.       Terutama dipengaruhi oleh kesusastraan Barat.
f.       Diketahui siapa pengarangnya karena dinyatakan dengan jelas.

Berdasarkan fungsinya sastra terbagi menjadi lima bagian :
a.       Fungsi rekreatif, yaitu memberikan rasa senang, gembira serta menghibur.
b.      Fungsi didaktif, yaitu mendidik para pembaca karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang ada di dalamnya.
c.       Fungsi estetis, yaitu memberikan nilai-nilai keindahan.
d.      Fungsi moralitas, yaitu mengandung nilai moral yang tinggi sehingga para pembaca dapat mengetahui moral yang baik dan buruk.
e.       Fungsi religiusitas, yaitu mengandung ajaran agama yang dapat dijadikan teladan bagi para pembacanya.

Jika karya sastra itu lebih mementingkan fungsi rekreatif dan estetis, maka karya sastra itu termasuk kedalam sastra populer. Selanjutnya, jika karya sastra itu mementingkan fungsi didaktif, molaritas, dan religiusitas, maka karya sastra itu termasuk kedalam sastra pendidikan. Sedangkan sastra picisan sebenarnya sama dengan sastra populer. Tetapi dalam satra picisan tidak mengandung isi yang lebih berbobot namun tetap menarik untuk dibaca.


2.3 Pengertian dan Contoh Sastra Pop, Sastra Picisan dan Sastra Pendidikan

a.      Sastra Pop

Pengertian Sastra Pop
Sastra pop adalah sastra yang unsurnya lebih mementingkan fungsi rekreatif, yaitu memberikan rasa senang serta menghibur pembaca karena cara penyampaiannya sederhana dan mudah dipahami.

Sastra popular, atau yang lebih dikenal dengan sebutan sastra pop, dianggap sebagai sastra yang esensinya lebih rendah dari sastra non-pop. Sastra pop dianggap tidak memiliki keindahan dari segi pemaknaan karena sekali baca seorang pembaca bisa langsung mengetahui makna yang ingin disampaikan oleh pengarang tanpa tudung aling-aling. Tidak seperti sastra non-pop, sastra pop cenderung lebih mengutamakan permintaan pasar daripada keindahan estetik yang tersaji lewat penyampaian maupun makna yang tersirat di dalam karya tersebut.

Sastra masa kini, yang dikenal dengan sastra popular, memiliki perbedaan yang sangat mencolok dengan sastra yang berkembang pada zaman dulu atau sastra non-pop. Jika dulu kita mengenal Pramudya Ananta Toer dengan sastra realisme sosialisnya, maka kini bermunculan sastra beraliran – saya menyebutnya sebagai – “sastra realisme kapitalis”.
Realisme sosialis sendiri adalah sebuah aliran seni yang muncul pada masa awal revolusi Rusia. Apa yang disebut “realisme sosialis” dalam wacana seni dan kebudayaan adalah sebagai alat perjuangan kelas. Aliran ini muncul karena usaha untuk memperbaiki seluruh krisis yang melanda melalui medium seni benar-benar mustahil dilakukan, kecuali dengan revolusioner.
Klaim realisme sosialis ini secara sederhana bisa dikatakan mendasarkan diri pada teori dialektika Marx, dimana realitas diletakkan sebagai esensi dari hal-hal yang tampak (materi). Dalam tradisi rusia, realisme sosialis sebagai aliran estetis dilembagakan keberadaannya menjadi semacam ideology atau paham yang dianut oleh sastrawan atau seniman (Eka Kurniawan “Pramudya Nanta Toer dan Sastra Realisme Sosialis”).

Aliran ini banyak diadopsi oleh sastrawan maupun seniman “kiri” yang kebanyakan hidup di dalam sebuah negara yang dipimpin oleh pemerintahan yang fasis. Di Rusia misalnya, ada Maxim Gorki dengan triloginya: Childhood, My Apperenticeship, dan My Universities. Di Cina ada Lu Hsun dengan beberapa novelnya, di antaranya adalah AQ Chengcuan. Di Indonesia ada Pramudya Ananta Toer dengan tetralogi Karya Buruh-nya.
Sedangkan “realisme kapitalis” sendiri, menurut saya, adalah sebuah aliran seni yang muncul pada masa ketika sastra yang “berat” atau sastra yang memerlukan pengetahuan lebih luas untuk memperoleh makna yang tersirat dalam karya tersebut mulai ditinggalkan pembaca yang beralih pada bacaan yang yang mudah dimengerti tanpa membaca ulang. Jika yang dicari oleh sastra realis adalah sebuah keadilan, maka yang dicari oleh sastra kapitalis adalah keuntungan.
Jika mau menghitung, tidak sedikit penulis yang mau menulis hanya karena kesadaran akan materi, bukan kesadaran mendalam atas realitas ada di sekitar masyarakat sekitarnya sehingga kualitas dari karya tersebut tergolong rendah.
Melihat kenyataan ini, dapat diambil sedikit kesimpulan dari beberapa kesimpulan yang tidak bisa sebutkan satu persatu, yaitu sastra di negara ini mengalami sedikit kemunduran apabila dibandingkan dengan zaman dulu. Karya sastra zaman dulu (sastra non-pop) lebih mementingkan unsure perjuangan untuk mendapatkan keadilan serta perlakuan yang layak. Sedangkan karya sastra yang banyak bermunculan pada masa kini cenderung lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau pihak-pihak tertentu (penerbit misalnya)



Contoh Sastra Pop :
·         Hanya Dia yang Ku Cinta
·         Perempuan yang Ku Sayang
·         Barong (Montinggo Busye)
·         Klise merah Jambu (Mira W)


b.      Sastra Picisan
Pengertian sastra picisan :
Sastra picisan adalah salah satu istilah yang dipakai beberapa pakar sastra untuk menyebut sastra populer. Memakai kata “picisan” karena “isi” dari karya itu tidak ada yang bisa diambil, pembaca hanya memperoleh hiburan murahan. Karya semacam ini tidak membuat pembacanya berfikir dan meningkatkan kualitas kemanusiaannya. Sastra seperti ini dianggap sampah, 'sudra' dan tak layak baca.

Sastra picisan mempunyai standart kualitas, mutu dan selera yang rendah, yang ditampilkan seakan-akan baru dan inovatif, padahal hanya mengulang dan mengimitasi apa yang telah ada sebelumnya. Berdasarkan pandangan modernis, sastra picisan termasuk ke dalam kategori ‘budaya rendah’, karena merayakan selera masa atau orang kebanyakan demi mendapatkan popularitas dan keuntungan dengan cepat.

Mungkin beberapa teman masih mengingat mengenai karya-karya yang sedemikian ini
sebuah novel tipis yang isinya tidak pernah lari dari pembicaraan yang membuat syahwat yang membaca "bergelora"-jika pun dapat dikatakan demikian

Contoh  Sastra Picisan :
·         Napsu Gila
·         Tante Girang (Ali Shahab)
·         Dalam Cengkraman Iblis
·         Arwah yang Tersia-sia
·         Babi ngepet dan Penghisap Darah (Abdullah Harahap)


c.       Sastra Pendidikan
Pengertian Sastra Pendidikan :
Sastra pendidikan adalah sastra yang unsurnya lebih mementingkan fungsi didaktif, yaitu mendidik para pembaca karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang ada didalamnya.

Karya sastra klasik umumnya sama dengan karya sastra pendidikan, karena mengandung nilai-nilai pendidikan yang dominan. Hal ini memang dapat dipahami karena peranan karya sastra pada zaman dahulu tidak sekedar sebagai media hiburan, melainkan juga sebagai media didaktis. Cerita-cerita binatang (fabel), misalnya, sesungguhnya merupakan personifikasi dari kehidupan manusia. Isinya merupakan nasehat dan pelajaran. Orang-orang yang mendengarkannya itu tidak lah merasa digurui.

Contoh Sastra Pendidikan :
·    Lebai Malang, yaitu cerita yang berkembang dalam masyarakat melayu. Ceriitanya sarat dengan petuah-petuah dan ajaran moral. Namun, cara penyampaiannya yang penuh humor, maka yang didongengi tidak lagi merasa diajari. Padahal nilai-nilai moral itu disampaikan secara langsung, boleh jadi diantara kita banyak yang tidak mau mendengarkannya karena merasa bosan atau karena tersindir.
·    Malin kundang, yaitu cerita yang populer dalam masyarakat melayu. Ceritanya tentang seorang anak miskin yang pergi merantau, kemudian menjadi kaya. Pada suatu hari dia kembali ke kampungnya sebagai seorang nahkoda sebuah kapal besar dan indah. Isinya bermacam-macam barang dagangan yang mahal-mahal. Mendengar malin kundang datang, ibunya yang sudah renta dan uzur ingin sekali bertemu dengan anaknya. Dia rindu kepada anaknya karena sudah lama pergi merantau. Tetapi, malin kundang tidak mau nengakui perempuan tua itu sebagai ibunya. Dia malu. Ibunya mengutuk Malin Kundang dan menjadi sebuah batu besar ditepi pantai.
·    Siti Nurbaya
·    Salah Asuhan




2.4 Perbedaan antara Sastra Pop, Sastra Picisan dan Sastra Pendidikan

Sastra Pop
Sastra Picisan
Sastra Pendidikan
Sastra yang unsurnya lebih mementingkan fungsi rekreatif, yaitu memberikan rasa senang serta menghibur pembaca karena cara penyampaiannya sederhana dan mudah dipahami.
Salah satu istilah yang dipakai beberapa pakar sastra untuk menyebut sastra populer. Memakai kata “picisan” karena “isi” dari karya itu tidak ada yang bisa diambil, pembaca hanya memperoleh hiburan murahan. Karya semacam ini tidak membuat pembacanya berfikir dan meningkatkan kualitas kemanusiaannya. Sastra seperti ini dianggap sampah, ‘sudra’ dan tak layak baca.
Sastra yang unsurnya lebih mementingkan fungsi didaktif, yaitu mendidik para pembaca karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang ada didalamnya.


2.5 Persamaan Sastra Pop, Sastra Picisan dan Sastra Pendidikan
a.       Sama-sama sebagai suatu karya sastra
b.      Sama-sama menarik untuk dibaca
c.       Sama-sama memiliki nilai komersil







Bab III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
 Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian makalah ini adalah mengenai :
a.       Sastra Pop
b.      Sastra Picisan
c.       Sastra Pendidikan


3.2 Saran
Adapun saran yang dapat kami berikan adalah :
a.       Sebaiknya guru bidang study Bahasa Indonesia memberi contoh makalah yang sudah jadi, sehingga kami bisa memiliki gambaran dalam membuat tulisan ini.
b.      Hendaknya ada kerja sama yang baik antar kelompok sehingga diskusi dapat berjalan dengan lancar



DAFTAR PUSTAKA

Kosasih, H. E. (2003). Ketatabahasaan dan Kesusastraan. Bandung : Yrama Widya.










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar